ibon INDIONG
Sabtu, 12 Juli 2014
malam ini
malam ini. malam ini sama saja dengan malam kemarin
sama saja degan malam beberapa minggu terakhir
ada bingung
sedih
nangis, dan sabar
semuanya. saya nyaris bingung bagaimana membahasakan apa yang saya rasakan. saya rindu. rindu sekali. rindu kembali seperti dulu. rindu menghabiskan semua waktu dengannya. tidak bisakah semuanya diulang ? menjadikan ini kesempatan terakhir. tidak bisa kah ?
selamat datang air mata, untuk kesekian kalinya.
selamat datang ulang tahun yang berakhir tragis.
doakan dikuatkan sajalah :")
Kamis, 26 Juni 2014
curhat
Entah, saya tiba – tiba saja kepikiran dengan akun blog saya. Akun yang seandainya sudah bisa rapuh karena sudah lama ditinggalkan ini. Saya mencoba untuk log in, dan ternyata saya berhasil . Sekarang, saya sedang berusaha menulis. Lebih tepatnya curhat hahaha
Umur 20. Mungkin masih muda sekali. Berbicara untuk pernikahan dan masa depan mungkin juga terlalu dini. Sekilas membaca tentang postingan terakhir saya, agak geli rasanya. Ada juga curhatan, dan saya senyum seyum sendiri membacanya
Saya ingin mulai bercerita *inimengetiksambilnangis* *postinganserius* *ambiltissu* *akurapopo*
Apa yang anda bisa bayangkan terhadap hubungan 3 tahun ?
Bagaimana anda menjalani hubungan 3 tahun ?
Pertengahan bulan september tahun 2010, awal kami mulai pacaran. Awalnya hanya pacaran anak sma yang menye-menye. Yang hanya taunya main, ketawa, berantem, baikan. Siklus anak SMA pada umumnya. Sampe hubungan itu berjalan pada akhir bulan 2013, dan betul betul lost contact pada april 2014.
Masa SMA sampai akhirnya kuliah. Dari cinta menye – menye sampai mulai memikirkan masa depan. Toh, buat apa menjalani suatu hubungan yang memang tidak ada ujungnya ? untuk apa mempertahankan suatu hubungan kalau kita sendiri tidak percaya satu sama lain ? untuk apa waktu dan perasaan yang sudah dikorbankan kalau memang tidak serius ?
Akhirnya, saya dan dia sampailah dititik itu. Dititik dimana kami mulai memikirkan masa depan. Dititik mulai lahirnya sebuah komitmen. “kita yang terakhir” , saya tidak tau apakah anda pembaca justru mencibir ini. Tapi, inilah adanya. Kami berjanji untuk hubungan kami ini yang terakhir.
Flasback sedikit, satu tahun lebih hubungan kami berjalan, ada masalah besar yang dihadapkan oleh kami. Sedikit banyaknya telah saya bagi pada postingan – postingan sebelumnya. Lebay mungkin mengatakan kalau itu musibah, tapi untuk sekarang ini, hanya kata itu yang muncul dalam otak saya , yaiyalah tidak bisa mikir wong galau akut begini :”)
Pada waktu itu, dia mengaku jenuh. Jenuh dengan hubungan kami, tapi tidak terlintas dibenak saya untuk memutuskan. Saya mengambil inisiatif untuk berubah. Maka dibuatlah kesepakatan antara kami, saya menanyakan pemicu jenuhnya dia, dan saya berusaha berubah. Sampai pada saatnya saya tahu, jenuh cuman topeng. Belakangan hari dia telah mendekati seorang perempuan. Hati siapa yang tidak sakit ? saya sempat menanyakan “sayang ki sama dia ?” dijawab “sayang sekali”. Saya bisa buat apa ? saya mundur, bukan berarti saya memutuskan. Saya cuman mengatakan saya ingin melihat dia bahagia. Kalo memang sudah tidak sama saya, untuk apa saya menjadi egois.
Setelah itu, saya ternyata tidak bs move on apalagi lets go, berapakali saya minta balikan, tapi tidak bisa. Akhirnya, saya jalani hidup saya kembali. Bahasa lebaynya begini, menata kembali hidup, menata kembali hati, berpikiran ke depan. Sedikit akhirnya saya bisa bahagia kembali, walaupun pada saat itu kalau seandainya ada yang bilang hati saya bagaimana, saya akan bilang masih sakit. Kalian para pembaca dapat melihat beberapa postingan saya sebelumnya, saya tetap menunggu. Jalan salah mungkin tapi hati dapat membutakan kadang – kadang.
Dan akhirnya sabar berbuah manis. 3 bulan kemudian, walaupun hati saya telah sedikit tertata, dia datang kembali. Ketika saya bertanya “kenapaki cari ka?” diamenjawab “mauka kembali” dan saya langsung mengiyakan tenpa berpikir. Tanpa babibu. Cinta cinta sayang sayang. Itu jawabannya. Alasan itu yang membuat yang menerima. Jauh dari lubuk hati paling dalam. Saya sangat sayang, dan pembaca bisa melihat postingan saya sebelumnya, saya menunggu. Dan saya tidak pernah main – main dengan ucapan atau komitmen saya.
Kamipun kembali. Saya sayang dia dan mungkin juga sebaliknya, yaaah, saya harap begitu :”) hubungan kami akhirnya sampai pada 3 tahun lebih 2 bulan. Kadang saya berpikir, hubungan kami flat. Akhirnya saya meminta break, bukan. Cernahlah dengan baik, saya ingin break tapi masih baik baik saja. Maksud saya, mungkin lebih ke hubungan tanpa status. Tapi sayang, sekitar bulan maret dia mengatakan tidak bisa lagi, saya harus apa ? aku kudu piye mas ?
Bio twitternya tidak pernah berubah, status facebooknya juga. Hingga suatu saat, saya melihat semuanya berbeda. Semuanya telah diubah. Dan saya berpikir mungkin sekarang waktu yang tepat. Mungkin dia ingin kalau saya yang mengatakan bahwa saya ingin kembali. Sayang, ketika saya ingin mengutarakan niat saya, dijawab dengan sudah sangat terlambat. Tau rasanya ? pernah rasa dibuang ke jurang ? mungkin beginilah rasanya.
Jika melihat kebelakang. Postingan twitter dan terakhir saya meminta semangat, belum sampe satu bulan :”)
“secepat itukah dia melupakan semua komitmen yang kita buat waktu masih bersama?”
“bisa yaa, sebulan pdkt dikalahkan dengan hubungan yang 3 tahun ?”
“saya memang antara bodoh dan polos berharap semua yang saya lakukan ke dia akan di lakukan juga”
“keadaan ? apakah kita harus menyalahkan keadaan ? kabar yang salah lalu membuat keadaan menjadi rumit ? ato justru kita yang menyerah pada keadaan lalu biarkan kita ini dibawa arus ? “
“ saya sempat berkata kepada seorang teman, kalau sampai dia mengatakn berlutut ko untuk balik, akan saya lakukan. Teman saya mengatakan murah mu, sekaligus kau hargainya itu rasa sayang di’? iya, kadang polos dan menghargai serta tolol menjadi satu. Tapi yang saya katakan ini serius “
“air mata saya masih setia, dan saya juga masih bingung menentukan arah dan kapan untuk berhenti menjadi manusia menjijikan yang harus terus menangis”
“selamat buat yang baru. Yang baru memang lebih cantik, semoga langgeng”
Bicara komitmen mungkin juga terlalu dini, tapi saya perempuan yang cukup memegang teguh soal janji dan komitmen :”)
“saya masih menunggu, entah sampai kapan, masih seperti postingan yang sebelum sebelumnya”
Minggu, 29 Januari 2012
MY HERO
*post pertama ditahun 2012, ini sebenarnya tugas KN :) selamat baca
My hero saya adalah ayah dan ibu saya.
Lahir pada tanggal 20 Mei 1961. Machmud, begitulah nama yang diberikan oleh kedua orang tua ayah saya kepada beliau. Ayah saya tumbuh seperti anak lelaki pada umunya. Tidak ada perbedaaan yang mencolok. Ayah saya hidup bukan dari kalangan keluarga yang lebih, keluarga kecil ayah hidup dengan pas pasan. Sekolah dasar ayah saya di SD Santo Yakobus , dan tamat pada tahun 1973. Ayah saya lalu melanjutkan SMPnya di SMP Sengkang , lalu ke SMA Pembangunan.
Nurlaily, adalah nama ibu saya. Lahir pada 9 Maret 1964. Leli, begitulah panggilan singkat ibu saya. Beliau mempunyai orangtua seorang guru. Yaa, itulah profesi kakek saya. Ibu saya sangatlah pintar, itulah komentar pertama kakek saya ketika saya menanyakan tentang ibu saya. SD Kapota Yudha’1977, SMP Negeri 3 Makassar’1980,SMA Negeri 2 Makassar’1983 , adalah riwayat pendidikan ibu saya. Ketika melanjutkan kuliah, ibu saya memilih Universitas Hasananuddin, Jurusan Teknik. Kuliah ibu saya tidak berlangsung lama. Beliau mengecap nikmatinya UNHAS hanya 2 tahun. Bukan karena terhalang biaya, walaupun ibu saya juga berasal dari keluarga pas-pasan, tapi karena beliau lebih memilih untuk kerja di Keuangan. Lebih memilih untuk menjadi manusia produktif ketimbang menjadi mahasiswa. Pernah saya tanyakan kepada beliau, mengapa beliau tidak melanjutkan kuliahnya di teknik, “dulu, tidak boleh sarjana ir. Masuk keuangan, nak “ itulah jawaban singkat ibu saya. Beruntung, ibu saya mendapat kesempatan kuliah lagi, walaupun dengan jurusan Manajemen yang berbanding terbalik dengan teknik.
Pada tahun 1983, penerimaan Keuangan dibuka. Dan akhirnya, ayah saya diterima. 7 tahunm bekerja, akhirnya ayah saya mantap untuk menikahi ibu saya, teman kantornya. Mereka dikaruniai 5 orang anak. Tuntutan profesi ayah saya yang mengabdi pada negara, mengharuskan beliau untuk mutasi pada tahun 2005. Mutasi pertama beliau adalah ke Raha, sebuah pulau kecil di Sulawesi Tenggara. Tidak mudah bagi ayah saya untuk menelan mentah mentah kenyataan mutasi itu, pada saat itu anaknya masi kecil-kecil. Ada rasa tidak tega meninggalkan ibu saya, seorang wanita karier dengan 5 anak. Dan akhirnya ayah saya berangkat, dengan sedikit rasa tidak tega.
Pada tahun 2005 tersebut, yang merasakan tidak enaknya berada jauh dari ayah cuman saya dan kedua kakak saya yang sudah cukup dapat berfikir. Ada kecemburuan sesaat yang saya rasakan ketika melihat seseorang berangkul mesra dengan ayahnya. Tapi, itu hanya perasaan sesaat saya. Ayah saya lebih hebat dari ayah ayah yang ada di dunia ini. Ayah saya memilih jauh, bukan semata karena karier yang beliau kejar. Ada satu harapan dimana beliau berharap dengan beliau jauh aada pundi-pundi yang bisa beliau tabung agar beliau dapat menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya.
Ayah saya pernah berkata begini “saya berasal dari keluarga susah,nak. Bapak merasakan betul bagaimana rasanya mempunyai keinginan yang menggebu- gebu namun terkandal d financial. Itu sangat tidak enak. Makanya, bapak terkadang memberikan yang kalian minta yang bapak anggap masuk akal”. Ayah saya berkata demikian bukan berarti mereka memanjakan anak-anaknya. Tapi, ayah saya memang sedikit lebih “malaikat” dibanding ibu saya. Ketika anak-anaknya menginginkan sesuatu barang atau hal, kami harus berusaha lalu bisa mendapatkan sesuatu tersebut. Ada sifat mandiri yang ditanamkan secara perlahan oleh ayah saya. Apalagi untuk saya dan kedua kakak saya. Ayah saya mutasi ketika masa manja kami baru akan dimulai.
Bagaimana dengan ibu saya? ibu saya orang yang sangat mandiri. Berkemauan keras, dan hidup teratur dengan terlebih dahulu membuat rencana. Tidak ada pepatah tiba masa tiba akal bagi ibu saya. Inilah nilai plus ibu saya yang jarang dimiliki siapun didunia ini. Mengasuh 5 orang anak dengan pribadi yang berbeda bukan hal mudah. Ayah saya yang hanya pulang sebulan bahkan tiga bulan sekali, lebih cenderung sabar. Tidak ada kebebasan yang berarti setelah ayah saya jauh. Semua yang kami lakukan haruskah kami pertanggungjawabkan, itulah yang ditanamkan pada keluarga bahagia kami. Ayah saya tidak lantas lepas tangan setelah ia jauh, bahkan telepon makin sering berbunyi. Dan karena inilah, saya dan saudara saudara saya merasa lengkap dalam ketidaksempurnaan.
Raha, bukan satu satunya tempat dimana ayah saya hidup. Dua tahun kemudian, mutasi menghampiri beliau lagi. Jayapura untuk kali ini. “tambah jauh” komentar pertama ayah saya. Dan kami, merasa terbiasa dengan hal ini.
Tidak ada perbedaan yang mencolok dari ayah saya ketika berada di Raha dan di Jayapura. Cuman waktu pulang saja yang menjadi kendali.
Ayah dan ibu saya menanamkan kemandirian dalam kehidupan kami. Menanamkan arti kehidupan secara lebih kongkrit. Kata orang-orang saya di kelilingi dengan nikmatnya financial keringat orang tua. Mereka adalah secerca orang yang kurang berfikir dalam berbicara. Ayah dan ibu saya sama sekali tidak pernah menamkan materi dalam pikiran anak-anaknya. Mengajarkan betapa indahnya kebahagian diatas keterbatasan. Ayah dan ibu saya adalah pahlawan bagi saya. Tanpa mereka, saya bukanlah apa apa .
Ibu dan ayah saya mengajarkan banyak hal dan mencontohkan banyak hal. Saya kagum dengan pribadi orang tua saya. Banyak hal yang dapat saya lakukan untuk mencontohi beliau, diantaranya dengan bersikap mandiri. Lebih menerima apa yang telah diberikan oleh takdir, karena adas sesuatu yang indah dibalik semuanya. Ibu saya selalu mencontohkan agar setiap manusia selalu mempunyai rencana. Sekecil apapun yang akan dilakukan. Dan saya akan berusaha.
Ayah saya adalah sosok yang sangat sabar dan sangat pengertian. Dan sifat itulah yang harus saya contohi. Bagaimanapun kekurangan mereka, kasih sayang tiada henti buat mereka.
My hero saya adalah ayah dan ibu saya.
Lahir pada tanggal 20 Mei 1961. Machmud, begitulah nama yang diberikan oleh kedua orang tua ayah saya kepada beliau. Ayah saya tumbuh seperti anak lelaki pada umunya. Tidak ada perbedaaan yang mencolok. Ayah saya hidup bukan dari kalangan keluarga yang lebih, keluarga kecil ayah hidup dengan pas pasan. Sekolah dasar ayah saya di SD Santo Yakobus , dan tamat pada tahun 1973. Ayah saya lalu melanjutkan SMPnya di SMP Sengkang , lalu ke SMA Pembangunan.
Nurlaily, adalah nama ibu saya. Lahir pada 9 Maret 1964. Leli, begitulah panggilan singkat ibu saya. Beliau mempunyai orangtua seorang guru. Yaa, itulah profesi kakek saya. Ibu saya sangatlah pintar, itulah komentar pertama kakek saya ketika saya menanyakan tentang ibu saya. SD Kapota Yudha’1977, SMP Negeri 3 Makassar’1980,SMA Negeri 2 Makassar’1983 , adalah riwayat pendidikan ibu saya. Ketika melanjutkan kuliah, ibu saya memilih Universitas Hasananuddin, Jurusan Teknik. Kuliah ibu saya tidak berlangsung lama. Beliau mengecap nikmatinya UNHAS hanya 2 tahun. Bukan karena terhalang biaya, walaupun ibu saya juga berasal dari keluarga pas-pasan, tapi karena beliau lebih memilih untuk kerja di Keuangan. Lebih memilih untuk menjadi manusia produktif ketimbang menjadi mahasiswa. Pernah saya tanyakan kepada beliau, mengapa beliau tidak melanjutkan kuliahnya di teknik, “dulu, tidak boleh sarjana ir. Masuk keuangan, nak “ itulah jawaban singkat ibu saya. Beruntung, ibu saya mendapat kesempatan kuliah lagi, walaupun dengan jurusan Manajemen yang berbanding terbalik dengan teknik.
Pada tahun 1983, penerimaan Keuangan dibuka. Dan akhirnya, ayah saya diterima. 7 tahunm bekerja, akhirnya ayah saya mantap untuk menikahi ibu saya, teman kantornya. Mereka dikaruniai 5 orang anak. Tuntutan profesi ayah saya yang mengabdi pada negara, mengharuskan beliau untuk mutasi pada tahun 2005. Mutasi pertama beliau adalah ke Raha, sebuah pulau kecil di Sulawesi Tenggara. Tidak mudah bagi ayah saya untuk menelan mentah mentah kenyataan mutasi itu, pada saat itu anaknya masi kecil-kecil. Ada rasa tidak tega meninggalkan ibu saya, seorang wanita karier dengan 5 anak. Dan akhirnya ayah saya berangkat, dengan sedikit rasa tidak tega.
Pada tahun 2005 tersebut, yang merasakan tidak enaknya berada jauh dari ayah cuman saya dan kedua kakak saya yang sudah cukup dapat berfikir. Ada kecemburuan sesaat yang saya rasakan ketika melihat seseorang berangkul mesra dengan ayahnya. Tapi, itu hanya perasaan sesaat saya. Ayah saya lebih hebat dari ayah ayah yang ada di dunia ini. Ayah saya memilih jauh, bukan semata karena karier yang beliau kejar. Ada satu harapan dimana beliau berharap dengan beliau jauh aada pundi-pundi yang bisa beliau tabung agar beliau dapat menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya.
Ayah saya pernah berkata begini “saya berasal dari keluarga susah,nak. Bapak merasakan betul bagaimana rasanya mempunyai keinginan yang menggebu- gebu namun terkandal d financial. Itu sangat tidak enak. Makanya, bapak terkadang memberikan yang kalian minta yang bapak anggap masuk akal”. Ayah saya berkata demikian bukan berarti mereka memanjakan anak-anaknya. Tapi, ayah saya memang sedikit lebih “malaikat” dibanding ibu saya. Ketika anak-anaknya menginginkan sesuatu barang atau hal, kami harus berusaha lalu bisa mendapatkan sesuatu tersebut. Ada sifat mandiri yang ditanamkan secara perlahan oleh ayah saya. Apalagi untuk saya dan kedua kakak saya. Ayah saya mutasi ketika masa manja kami baru akan dimulai.
Bagaimana dengan ibu saya? ibu saya orang yang sangat mandiri. Berkemauan keras, dan hidup teratur dengan terlebih dahulu membuat rencana. Tidak ada pepatah tiba masa tiba akal bagi ibu saya. Inilah nilai plus ibu saya yang jarang dimiliki siapun didunia ini. Mengasuh 5 orang anak dengan pribadi yang berbeda bukan hal mudah. Ayah saya yang hanya pulang sebulan bahkan tiga bulan sekali, lebih cenderung sabar. Tidak ada kebebasan yang berarti setelah ayah saya jauh. Semua yang kami lakukan haruskah kami pertanggungjawabkan, itulah yang ditanamkan pada keluarga bahagia kami. Ayah saya tidak lantas lepas tangan setelah ia jauh, bahkan telepon makin sering berbunyi. Dan karena inilah, saya dan saudara saudara saya merasa lengkap dalam ketidaksempurnaan.
Raha, bukan satu satunya tempat dimana ayah saya hidup. Dua tahun kemudian, mutasi menghampiri beliau lagi. Jayapura untuk kali ini. “tambah jauh” komentar pertama ayah saya. Dan kami, merasa terbiasa dengan hal ini.
Tidak ada perbedaan yang mencolok dari ayah saya ketika berada di Raha dan di Jayapura. Cuman waktu pulang saja yang menjadi kendali.
Ayah dan ibu saya menanamkan kemandirian dalam kehidupan kami. Menanamkan arti kehidupan secara lebih kongkrit. Kata orang-orang saya di kelilingi dengan nikmatnya financial keringat orang tua. Mereka adalah secerca orang yang kurang berfikir dalam berbicara. Ayah dan ibu saya sama sekali tidak pernah menamkan materi dalam pikiran anak-anaknya. Mengajarkan betapa indahnya kebahagian diatas keterbatasan. Ayah dan ibu saya adalah pahlawan bagi saya. Tanpa mereka, saya bukanlah apa apa .
Ibu dan ayah saya mengajarkan banyak hal dan mencontohkan banyak hal. Saya kagum dengan pribadi orang tua saya. Banyak hal yang dapat saya lakukan untuk mencontohi beliau, diantaranya dengan bersikap mandiri. Lebih menerima apa yang telah diberikan oleh takdir, karena adas sesuatu yang indah dibalik semuanya. Ibu saya selalu mencontohkan agar setiap manusia selalu mempunyai rencana. Sekecil apapun yang akan dilakukan. Dan saya akan berusaha.
Ayah saya adalah sosok yang sangat sabar dan sangat pengertian. Dan sifat itulah yang harus saya contohi. Bagaimanapun kekurangan mereka, kasih sayang tiada henti buat mereka.
Kamis, 29 Desember 2011
bisa baca ini ?
seandainya botto baca ini saya cuman mau bilang ini :
" ada satu yang tidak bisa sy kikis. ada sayang yang masi tersimpan rapi yang mungkin sendiri jeka pendam ki "
" saya masi menunggu, entah untuk hubungan apapun itu. walaupun untuk balik tidak ada peluang, saya menunggu untuk kedekatan kita dulu. balik cuman khayalan semata :") "
" begini caraku untuk sayang ki, kalau memang tidak cukup, pasrah, rela, ikhlas mka sama semuanya "
" raffi yuni ajaa balik, kita lagi dagi dag mau ikuti kah ? :p "
" maaf atas ketidak sejukkan yang sa kasi "
" begini dan ini mi caraku kasi ki tempat yang nyaman. rasa sayang dan cinta yang besar sekali. mungkin memang tidak cukup. wanita itu memang bisa lebih baik "
" pernah saya tanyaki, apa dag bosan ki sama saya ? apa jawabanta? dag bakal bosan, kita bilang bgini, karna kita mi yang etrakhir buat saya "
dll
"banyak sekali sebenarnya, tp dag pernah k bisa tulis masa masa bahagia dan sedihta"
dag menger k sama semuanya botto, berharap k ini mimpi terburuk. tapi, mirisnya kita yang sadarkan k selalu kalau ini nyata. ini kenyataan terpahit yang harus sa lalui. makasi untuk waktu singkatnya. berdoa k selalu supaya yang terbaik datang buat kita. keanya memang berharap sekali ki sama itu cewe di' ? good luck yaaa :D
bahagia k dengan carata bahagiakan diri ta :)
makasi juga sudah diselingkuhi :p
" ada satu yang tidak bisa sy kikis. ada sayang yang masi tersimpan rapi yang mungkin sendiri jeka pendam ki "
" saya masi menunggu, entah untuk hubungan apapun itu. walaupun untuk balik tidak ada peluang, saya menunggu untuk kedekatan kita dulu. balik cuman khayalan semata :") "
" begini caraku untuk sayang ki, kalau memang tidak cukup, pasrah, rela, ikhlas mka sama semuanya "
" raffi yuni ajaa balik, kita lagi dagi dag mau ikuti kah ? :p "
" maaf atas ketidak sejukkan yang sa kasi "
" begini dan ini mi caraku kasi ki tempat yang nyaman. rasa sayang dan cinta yang besar sekali. mungkin memang tidak cukup. wanita itu memang bisa lebih baik "
" pernah saya tanyaki, apa dag bosan ki sama saya ? apa jawabanta? dag bakal bosan, kita bilang bgini, karna kita mi yang etrakhir buat saya "
dll
"banyak sekali sebenarnya, tp dag pernah k bisa tulis masa masa bahagia dan sedihta"
dag menger k sama semuanya botto, berharap k ini mimpi terburuk. tapi, mirisnya kita yang sadarkan k selalu kalau ini nyata. ini kenyataan terpahit yang harus sa lalui. makasi untuk waktu singkatnya. berdoa k selalu supaya yang terbaik datang buat kita. keanya memang berharap sekali ki sama itu cewe di' ? good luck yaaa :D
bahagia k dengan carata bahagiakan diri ta :)
makasi juga sudah diselingkuhi :p
Kamis, 22 Desember 2011
mati suri
blog saya lagi mati suri yaa ?
malam ini saya membuka file-file d laptop, dan menemukan banyak sekali post post yang blum saya pindahkan -_-
malam ini saya membuka file-file d laptop, dan menemukan banyak sekali post post yang blum saya pindahkan -_-
curhat
ingat tulisan saya tentang my last ?
mungkin, sekitar 2 minggu yang lalu kami telah berakhir. dan saya merasakan betul yang namanya kehilangan . tidak ada kebohongan yang saya tulis ketika saya menuliskan " kalau saja kami berakhir, mungkin dunia saya akan berhenti berputar". yaa , itulah yang terjadi . hampa. kosong. sendiri. kesepian. sumpah demi apa, saya ternyata pribadi yang melankolis dan cengeng sekali. hari pertama selesai, saya sangat uring uringan. kampus tidak ada yang beres. kamar apalagi. hidup memang harus move on, but do you ever think that move on is not easy as you think ? ada banyak kejadian yang akan terus terekam. yang selalu terputar. gampang memang untuk mengatakan, biarlah waktu yang menjawab segalanya. tapi, untuk melakukannya tidaksemudah mengatakannya. mungkin lebay. mungkin akan galau. tapi percayalah, bahwa semua itu juga proses. air mata yang mengucur deraspu. air mata yang akan membuatmu semakin kuat. tidak akan ada rasa sayang atau cinta yang akan cepat musnah kecuali dibasahi dengan rasa sakit hati yang terdalam. sebenarnya itu yang terjadi sekarang. setelah dua minggu ini, tidak berkomunikasi sama sekali. entah apa yang saya rasakan sekarang. jujur, saya akan terdiam ketika di tanya " masih sayang ?" "masih cinta? " "masih mau sama sama?". saya akan bingung.
hari itu, mungkin puncak kesabaran saya. bukan untuk membanggakan diri, tidak sedikit orang yang mengomentari saya dengan "halo ibon. buka matamu. terlau sabarko" atau " kurang ajar sekali dia nah" . dia melatih saya untuk sabar. dia dengan mulusnya melanggar semua idealisme hubungan yang saya pegang. kata kasarnya adalah hanya keputusan dialah yang selalu akan terjadi. dan saya hanya sebagai penasihat. miris memang. saya terlatih untuk diam. ketika semua orang menghujam dengan kesabaran berlebih yang saya berikan, yang saya bisa jawab hanya ketika dia mengatakan saya meminta kesabaranmu lebih, artinya saya gagal menjadi orang yang sabar. dan harus lebih sabar lagi. dan inilah yang terjadi. dia dan saya mungkin tidak menyadari ketika dia melatih saya dan saya terlatih untuk itu, ada bom waktu yang saya tanam. saya jenuh dengan kenyataan yang memilukan hati yang ia lontarkan. pernah dia mengatakan begini " apapun yang terjadi saya akan memilih teman saya dibanding kamu". apa yang anda lakukan ketika orang yang paling anda cintai mengatkan ini ? setelah anda menghancurkan persahabatan anda, ketika anda menjadikan apapun yang terjadi dialah orang yang paling pertama ternyata anda tidak dianggap sebagai orang pertama ? ketika dia lebih memilih futsal dan menjadikan anda sebagai penjaga tas dia dan teman-temannya. ketika tidak pernah ada waktu weekend yang dilalui bersama karena alasan ingin di rumah dulu, tetapiu ketika temannya mengajak keluar tidak ada pemikiran kedua. sang lelaki mengiyakan. kami berada dalam satu kota. tetapi waktu ketemu hanya 2 minggu sekali. kurang sabar apa saya ini ?
saya mungkin tidak menghargai atau melihat apa yang dia lakukan.
tapi, intinya sama. akhirnya hanya ada kata teman
mungkin, sekitar 2 minggu yang lalu kami telah berakhir. dan saya merasakan betul yang namanya kehilangan . tidak ada kebohongan yang saya tulis ketika saya menuliskan " kalau saja kami berakhir, mungkin dunia saya akan berhenti berputar". yaa , itulah yang terjadi . hampa. kosong. sendiri. kesepian. sumpah demi apa, saya ternyata pribadi yang melankolis dan cengeng sekali. hari pertama selesai, saya sangat uring uringan. kampus tidak ada yang beres. kamar apalagi. hidup memang harus move on, but do you ever think that move on is not easy as you think ? ada banyak kejadian yang akan terus terekam. yang selalu terputar. gampang memang untuk mengatakan, biarlah waktu yang menjawab segalanya. tapi, untuk melakukannya tidaksemudah mengatakannya. mungkin lebay. mungkin akan galau. tapi percayalah, bahwa semua itu juga proses. air mata yang mengucur deraspu. air mata yang akan membuatmu semakin kuat. tidak akan ada rasa sayang atau cinta yang akan cepat musnah kecuali dibasahi dengan rasa sakit hati yang terdalam. sebenarnya itu yang terjadi sekarang. setelah dua minggu ini, tidak berkomunikasi sama sekali. entah apa yang saya rasakan sekarang. jujur, saya akan terdiam ketika di tanya " masih sayang ?" "masih cinta? " "masih mau sama sama?". saya akan bingung.
hari itu, mungkin puncak kesabaran saya. bukan untuk membanggakan diri, tidak sedikit orang yang mengomentari saya dengan "halo ibon. buka matamu. terlau sabarko" atau " kurang ajar sekali dia nah" . dia melatih saya untuk sabar. dia dengan mulusnya melanggar semua idealisme hubungan yang saya pegang. kata kasarnya adalah hanya keputusan dialah yang selalu akan terjadi. dan saya hanya sebagai penasihat. miris memang. saya terlatih untuk diam. ketika semua orang menghujam dengan kesabaran berlebih yang saya berikan, yang saya bisa jawab hanya ketika dia mengatakan saya meminta kesabaranmu lebih, artinya saya gagal menjadi orang yang sabar. dan harus lebih sabar lagi. dan inilah yang terjadi. dia dan saya mungkin tidak menyadari ketika dia melatih saya dan saya terlatih untuk itu, ada bom waktu yang saya tanam. saya jenuh dengan kenyataan yang memilukan hati yang ia lontarkan. pernah dia mengatakan begini " apapun yang terjadi saya akan memilih teman saya dibanding kamu". apa yang anda lakukan ketika orang yang paling anda cintai mengatkan ini ? setelah anda menghancurkan persahabatan anda, ketika anda menjadikan apapun yang terjadi dialah orang yang paling pertama ternyata anda tidak dianggap sebagai orang pertama ? ketika dia lebih memilih futsal dan menjadikan anda sebagai penjaga tas dia dan teman-temannya. ketika tidak pernah ada waktu weekend yang dilalui bersama karena alasan ingin di rumah dulu, tetapiu ketika temannya mengajak keluar tidak ada pemikiran kedua. sang lelaki mengiyakan. kami berada dalam satu kota. tetapi waktu ketemu hanya 2 minggu sekali. kurang sabar apa saya ini ?
saya mungkin tidak menghargai atau melihat apa yang dia lakukan.
tapi, intinya sama. akhirnya hanya ada kata teman
Senin, 28 November 2011
karena kamu cuma satu
ingat cerita saya tentang my last ? kami berakhir *saya betul betul merasa dunia berhenti berputar *
ini lirik lagu yang pernah saya kirim ke dia
kau yang paling setia, kau yang teristimewa
kau yang aku cinta, cuma engkau saja
dari semua pria aku yang juara
dari semua wanita kau yang paling sejiwa
denganmu semua air mata menjadi tawa suka ria
akankah kau selalu ada menemani dalam suka duka
denganmu aku bahagia, denganmu semua ceria
janganlah kau berpaling dariku karena kamu cuma satu untukku
kau satu-satunya dan tak ada dua
apalagi tiga, cuma engkau saja
denganmu semua air mata menjadi tawa suka ria
akankah kau selalu ada menemani dalam suka duka
denganmu aku bahagia, denganmu semua ceria
janganlah kau berpaling dariku karena kamu cuma satu untukku
kau satu-satunya dan tak ada dua
apalagi tiga, cuma engkau saja
dari semua pria aku yang juara (aku yang juara)
dari semua wanita kau yang paling sejiwa
denganmu semua air mata menjadi tawa suka ria
akankah kau selalu ada menemani dalam suka duka
denganmu aku bahagia, denganmu semua ceria
janganlah kau berpaling dariku karena kamu cuma satu untukku
untukku, untukku, untukku, untukku
katanya , sekarang dia sedang dekat sama seseorang . jujur, harapan saya jangan . saya masih sangat sayang . tp mungkin itu membuat dia bahagia :")
ini lirik lagu yang pernah saya kirim ke dia
kau yang paling setia, kau yang teristimewa
kau yang aku cinta, cuma engkau saja
dari semua pria aku yang juara
dari semua wanita kau yang paling sejiwa
denganmu semua air mata menjadi tawa suka ria
akankah kau selalu ada menemani dalam suka duka
denganmu aku bahagia, denganmu semua ceria
janganlah kau berpaling dariku karena kamu cuma satu untukku
kau satu-satunya dan tak ada dua
apalagi tiga, cuma engkau saja
denganmu semua air mata menjadi tawa suka ria
akankah kau selalu ada menemani dalam suka duka
denganmu aku bahagia, denganmu semua ceria
janganlah kau berpaling dariku karena kamu cuma satu untukku
kau satu-satunya dan tak ada dua
apalagi tiga, cuma engkau saja
dari semua pria aku yang juara (aku yang juara)
dari semua wanita kau yang paling sejiwa
denganmu semua air mata menjadi tawa suka ria
akankah kau selalu ada menemani dalam suka duka
denganmu aku bahagia, denganmu semua ceria
janganlah kau berpaling dariku karena kamu cuma satu untukku
untukku, untukku, untukku, untukku
katanya , sekarang dia sedang dekat sama seseorang . jujur, harapan saya jangan . saya masih sangat sayang . tp mungkin itu membuat dia bahagia :")
Langganan:
Komentar (Atom)
