Kamis, 26 Juni 2014

curhat

Entah, saya tiba – tiba saja kepikiran dengan akun blog saya. Akun yang seandainya sudah bisa rapuh karena sudah lama ditinggalkan ini. Saya mencoba untuk log in, dan ternyata saya berhasil . Sekarang, saya sedang berusaha menulis. Lebih tepatnya curhat hahaha Umur 20. Mungkin masih muda sekali. Berbicara untuk pernikahan dan masa depan mungkin juga terlalu dini. Sekilas membaca tentang postingan terakhir saya, agak geli rasanya. Ada juga curhatan, dan saya senyum seyum sendiri membacanya  Saya ingin mulai bercerita *inimengetiksambilnangis* *postinganserius* *ambiltissu* *akurapopo* Apa yang anda bisa bayangkan terhadap hubungan 3 tahun ? Bagaimana anda menjalani hubungan 3 tahun ? Pertengahan bulan september tahun 2010, awal kami mulai pacaran. Awalnya hanya pacaran anak sma yang menye-menye. Yang hanya taunya main, ketawa, berantem, baikan. Siklus anak SMA pada umumnya. Sampe hubungan itu berjalan pada akhir bulan 2013, dan betul betul lost contact pada april 2014. Masa SMA sampai akhirnya kuliah. Dari cinta menye – menye sampai mulai memikirkan masa depan. Toh, buat apa menjalani suatu hubungan yang memang tidak ada ujungnya ? untuk apa mempertahankan suatu hubungan kalau kita sendiri tidak percaya satu sama lain ? untuk apa waktu dan perasaan yang sudah dikorbankan kalau memang tidak serius ? Akhirnya, saya dan dia sampailah dititik itu. Dititik dimana kami mulai memikirkan masa depan. Dititik mulai lahirnya sebuah komitmen. “kita yang terakhir” , saya tidak tau apakah anda pembaca justru mencibir ini. Tapi, inilah adanya. Kami berjanji untuk hubungan kami ini yang terakhir. Flasback sedikit, satu tahun lebih hubungan kami berjalan, ada masalah besar yang dihadapkan oleh kami. Sedikit banyaknya telah saya bagi pada postingan – postingan sebelumnya. Lebay mungkin mengatakan kalau itu musibah, tapi untuk sekarang ini, hanya kata itu yang muncul dalam otak saya , yaiyalah tidak bisa mikir wong galau akut begini :”) Pada waktu itu, dia mengaku jenuh. Jenuh dengan hubungan kami, tapi tidak terlintas dibenak saya untuk memutuskan. Saya mengambil inisiatif untuk berubah. Maka dibuatlah kesepakatan antara kami, saya menanyakan pemicu jenuhnya dia, dan saya berusaha berubah. Sampai pada saatnya saya tahu, jenuh cuman topeng. Belakangan hari dia telah mendekati seorang perempuan. Hati siapa yang tidak sakit ? saya sempat menanyakan “sayang ki sama dia ?” dijawab “sayang sekali”. Saya bisa buat apa ? saya mundur, bukan berarti saya memutuskan. Saya cuman mengatakan saya ingin melihat dia bahagia. Kalo memang sudah tidak sama saya, untuk apa saya menjadi egois. Setelah itu, saya ternyata tidak bs move on apalagi lets go, berapakali saya minta balikan, tapi tidak bisa. Akhirnya, saya jalani hidup saya kembali. Bahasa lebaynya begini, menata kembali hidup, menata kembali hati, berpikiran ke depan. Sedikit akhirnya saya bisa bahagia kembali, walaupun pada saat itu kalau seandainya ada yang bilang hati saya bagaimana, saya akan bilang masih sakit. Kalian para pembaca dapat melihat beberapa postingan saya sebelumnya, saya tetap menunggu. Jalan salah mungkin tapi hati dapat membutakan kadang – kadang. Dan akhirnya sabar berbuah manis. 3 bulan kemudian, walaupun hati saya telah sedikit tertata, dia datang kembali. Ketika saya bertanya “kenapaki cari ka?” diamenjawab “mauka kembali” dan saya langsung mengiyakan tenpa berpikir. Tanpa babibu. Cinta cinta sayang sayang. Itu jawabannya. Alasan itu yang membuat yang menerima. Jauh dari lubuk hati paling dalam. Saya sangat sayang, dan pembaca bisa melihat postingan saya sebelumnya, saya menunggu. Dan saya tidak pernah main – main dengan ucapan atau komitmen saya. Kamipun kembali. Saya sayang dia dan mungkin juga sebaliknya, yaaah, saya harap begitu :”) hubungan kami akhirnya sampai pada 3 tahun lebih 2 bulan. Kadang saya berpikir, hubungan kami flat. Akhirnya saya meminta break, bukan. Cernahlah dengan baik, saya ingin break tapi masih baik baik saja. Maksud saya, mungkin lebih ke hubungan tanpa status. Tapi sayang, sekitar bulan maret dia mengatakan tidak bisa lagi, saya harus apa ? aku kudu piye mas ? Bio twitternya tidak pernah berubah, status facebooknya juga. Hingga suatu saat, saya melihat semuanya berbeda. Semuanya telah diubah. Dan saya berpikir mungkin sekarang waktu yang tepat. Mungkin dia ingin kalau saya yang mengatakan bahwa saya ingin kembali. Sayang, ketika saya ingin mengutarakan niat saya, dijawab dengan sudah sangat terlambat. Tau rasanya ? pernah rasa dibuang ke jurang ? mungkin beginilah rasanya. Jika melihat kebelakang. Postingan twitter dan terakhir saya meminta semangat, belum sampe satu bulan :”) “secepat itukah dia melupakan semua komitmen yang kita buat waktu masih bersama?” “bisa yaa, sebulan pdkt dikalahkan dengan hubungan yang 3 tahun ?” “saya memang antara bodoh dan polos berharap semua yang saya lakukan ke dia akan di lakukan juga” “keadaan ? apakah kita harus menyalahkan keadaan ? kabar yang salah lalu membuat keadaan menjadi rumit ? ato justru kita yang menyerah pada keadaan lalu biarkan kita ini dibawa arus ? “ “ saya sempat berkata kepada seorang teman, kalau sampai dia mengatakn berlutut ko untuk balik, akan saya lakukan. Teman saya mengatakan murah mu, sekaligus kau hargainya itu rasa sayang di’? iya, kadang polos dan menghargai serta tolol menjadi satu. Tapi yang saya katakan ini serius  “ “air mata saya masih setia, dan saya juga masih bingung menentukan arah dan kapan untuk berhenti menjadi manusia menjijikan yang harus terus menangis” “selamat buat yang baru. Yang baru memang lebih cantik, semoga langgeng” Bicara komitmen mungkin juga terlalu dini, tapi saya perempuan yang cukup memegang teguh soal janji dan komitmen :”) “saya masih menunggu, entah sampai kapan, masih seperti postingan yang sebelum sebelumnya”

Tidak ada komentar: