Minggu, 29 Januari 2012

MY HERO

*post pertama ditahun 2012, ini sebenarnya tugas KN :) selamat baca


My hero saya adalah ayah dan ibu saya.
Lahir pada tanggal 20 Mei 1961. Machmud, begitulah nama yang diberikan oleh kedua orang tua ayah saya kepada beliau. Ayah saya tumbuh seperti anak lelaki pada umunya. Tidak ada perbedaaan yang mencolok. Ayah saya hidup bukan dari kalangan keluarga yang lebih, keluarga kecil ayah hidup dengan pas pasan. Sekolah dasar ayah saya di SD Santo Yakobus , dan tamat pada tahun 1973. Ayah saya lalu melanjutkan SMPnya di SMP Sengkang , lalu ke SMA Pembangunan.
Nurlaily, adalah nama ibu saya. Lahir pada 9 Maret 1964. Leli, begitulah panggilan singkat ibu saya. Beliau mempunyai orangtua seorang guru. Yaa, itulah profesi kakek saya. Ibu saya sangatlah pintar, itulah komentar pertama kakek saya ketika saya menanyakan tentang ibu saya. SD Kapota Yudha’1977, SMP Negeri 3 Makassar’1980,SMA Negeri 2 Makassar’1983 , adalah riwayat pendidikan ibu saya. Ketika melanjutkan kuliah, ibu saya memilih Universitas Hasananuddin, Jurusan Teknik. Kuliah ibu saya tidak berlangsung lama. Beliau mengecap nikmatinya UNHAS hanya 2 tahun. Bukan karena terhalang biaya, walaupun ibu saya juga berasal dari keluarga pas-pasan, tapi karena beliau lebih memilih untuk kerja di Keuangan. Lebih memilih untuk menjadi manusia produktif ketimbang menjadi mahasiswa. Pernah saya tanyakan kepada beliau, mengapa beliau tidak melanjutkan kuliahnya di teknik, “dulu, tidak boleh sarjana ir. Masuk keuangan, nak “ itulah jawaban singkat ibu saya. Beruntung, ibu saya mendapat kesempatan kuliah lagi, walaupun dengan jurusan Manajemen yang berbanding terbalik dengan teknik.
Pada tahun 1983, penerimaan Keuangan dibuka. Dan akhirnya, ayah saya diterima. 7 tahunm bekerja, akhirnya ayah saya mantap untuk menikahi ibu saya, teman kantornya. Mereka dikaruniai 5 orang anak. Tuntutan profesi ayah saya yang mengabdi pada negara, mengharuskan beliau untuk mutasi pada tahun 2005. Mutasi pertama beliau adalah ke Raha, sebuah pulau kecil di Sulawesi Tenggara. Tidak mudah bagi ayah saya untuk menelan mentah mentah kenyataan mutasi itu, pada saat itu anaknya masi kecil-kecil. Ada rasa tidak tega meninggalkan ibu saya, seorang wanita karier dengan 5 anak. Dan akhirnya ayah saya berangkat, dengan sedikit rasa tidak tega.
Pada tahun 2005 tersebut, yang merasakan tidak enaknya berada jauh dari ayah cuman saya dan kedua kakak saya yang sudah cukup dapat berfikir. Ada kecemburuan sesaat yang saya rasakan ketika melihat seseorang berangkul mesra dengan ayahnya. Tapi, itu hanya perasaan sesaat saya. Ayah saya lebih hebat dari ayah ayah yang ada di dunia ini. Ayah saya memilih jauh, bukan semata karena karier yang beliau kejar. Ada satu harapan dimana beliau berharap dengan beliau jauh aada pundi-pundi yang bisa beliau tabung agar beliau dapat menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya.
Ayah saya pernah berkata begini “saya berasal dari keluarga susah,nak. Bapak merasakan betul bagaimana rasanya mempunyai keinginan yang menggebu- gebu namun terkandal d financial. Itu sangat tidak enak. Makanya, bapak terkadang memberikan yang kalian minta yang bapak anggap masuk akal”. Ayah saya berkata demikian bukan berarti mereka memanjakan anak-anaknya. Tapi, ayah saya memang sedikit lebih “malaikat” dibanding ibu saya. Ketika anak-anaknya menginginkan sesuatu barang atau hal, kami harus berusaha lalu bisa mendapatkan sesuatu tersebut. Ada sifat mandiri yang ditanamkan secara perlahan oleh ayah saya. Apalagi untuk saya dan kedua kakak saya. Ayah saya mutasi ketika masa manja kami baru akan dimulai.
Bagaimana dengan ibu saya? ibu saya orang yang sangat mandiri. Berkemauan keras, dan hidup teratur dengan terlebih dahulu membuat rencana. Tidak ada pepatah tiba masa tiba akal bagi ibu saya. Inilah nilai plus ibu saya yang jarang dimiliki siapun didunia ini. Mengasuh 5 orang anak dengan pribadi yang berbeda bukan hal mudah. Ayah saya yang hanya pulang sebulan bahkan tiga bulan sekali, lebih cenderung sabar. Tidak ada kebebasan yang berarti setelah ayah saya jauh. Semua yang kami lakukan haruskah kami pertanggungjawabkan, itulah yang ditanamkan pada keluarga bahagia kami. Ayah saya tidak lantas lepas tangan setelah ia jauh, bahkan telepon makin sering berbunyi. Dan karena inilah, saya dan saudara saudara saya merasa lengkap dalam ketidaksempurnaan.
Raha, bukan satu satunya tempat dimana ayah saya hidup. Dua tahun kemudian, mutasi menghampiri beliau lagi. Jayapura untuk kali ini. “tambah jauh” komentar pertama ayah saya. Dan kami, merasa terbiasa dengan hal ini.
Tidak ada perbedaan yang mencolok dari ayah saya ketika berada di Raha dan di Jayapura. Cuman waktu pulang saja yang menjadi kendali.
Ayah dan ibu saya menanamkan kemandirian dalam kehidupan kami. Menanamkan arti kehidupan secara lebih kongkrit. Kata orang-orang saya di kelilingi dengan nikmatnya financial keringat orang tua. Mereka adalah secerca orang yang kurang berfikir dalam berbicara. Ayah dan ibu saya sama sekali tidak pernah menamkan materi dalam pikiran anak-anaknya. Mengajarkan betapa indahnya kebahagian diatas keterbatasan. Ayah dan ibu saya adalah pahlawan bagi saya. Tanpa mereka, saya bukanlah apa apa .
Ibu dan ayah saya mengajarkan banyak hal dan mencontohkan banyak hal. Saya kagum dengan pribadi orang tua saya. Banyak hal yang dapat saya lakukan untuk mencontohi beliau, diantaranya dengan bersikap mandiri. Lebih menerima apa yang telah diberikan oleh takdir, karena adas sesuatu yang indah dibalik semuanya. Ibu saya selalu mencontohkan agar setiap manusia selalu mempunyai rencana. Sekecil apapun yang akan dilakukan. Dan saya akan berusaha.
Ayah saya adalah sosok yang sangat sabar dan sangat pengertian. Dan sifat itulah yang harus saya contohi. Bagaimanapun kekurangan mereka, kasih sayang tiada henti buat mereka.