uang . . .
apa benar semuanya dapat diukur dengan uang ?
banyak yang bilang " kalau ada uang pasti semuanya selesai ".
apa benar itu terjadi ?
yagh. . .
ada beberapa masalah memang yang selesai dengan uang . tapi menurut saya pribadi uang TIDAk bisa membeli KASIH SAYANG, CINTA .
*Entri ini diilhami dari keadaan sekitar ku*
seorang anak yang hidup dengan uang tetapi sama sekali tak mendapatkan kasih sayang apa masih bisa beratahan ?
contohnya begini :
anak tersebut sangat gampang dalam masalah uang. Tetapi, jika pulang sekolah tak pernah langsung pulang ke rumah. Ia nongkrong sana sini . Ke rumah temannya, dsb. jika ia ditanya, ia mengatakan " tidak adaji di bikin di rumah ", "kalau kecepatan pulang, ketawa nanti pagarku", "pulang cepat atau tidak sama saja. Omelan terus yang didengar".
dan masih banyak alasan lagi. dan alasan yang paling miris ku dengar adalah "sama saja. malah lebih enak nongkrong. rame. dariapada pulang, hanya tumah kosong yang saya dapat".
mereka mengatakan hal itu sambil tertawa. tapi aku tahu, dalam lubuk hati mereka yang paling dalam merintih bahkan menangis. Hati mereka adalah bom waktu yang sewaktu - waktu dapat meledak.
para orang tua justru melihat dari sisi lain. mungkin di antara 10 orang hanya 3 yang pulang terlambat tak pernah dimarahi. Justru 3 orang inilah yang memiliki bom waktu yang sangat kuat jika "meledak" nanti.
para orang tua berfikir seperti ini , mungkin :
~ Apa gunanya kalian nongkrong ?
~hanya menghabisakan waktu secara percuma saja.
~tidak puas kalian disekolah ?
disinilah akar dari semuanya, mereka selalu melihat dari sisi masalah tersebut terjadi. bukan dari apa penyebab masalah itu terjadi. Apa pernah mereka berfikir kalau semuanya berawal dari mereka ?
Entahlah . . .
Ada seorang teman yang bercerita kepadaku sebagai referensi entri ini yang intinya begini :
orang tuanya sangatlah loyal masalah uang. tapi mirisnya adalah, orang tuanya acapkali pulang malam . tak pernah meraka sesekali menghampirinya, dikala ia sampai di rumah. tak pernah ia makan malam dalam satu meja. dsb. .
masikah uang berharga ?
aku pernah bertanya pada diriku sendiri, haruskah aku terus - terusan menentang kata hatiku dengan megikuti perintah orang tua ?
dilema memang, di satu sisi kita ingin mengikuti kata hati kita sendiri tapi di sisi lain sbagai anak kita dituntut untuk selalu berbakti. tak membantah.
dan sampai sekarang aku tak pernah mendapatkan jawaban atas pertanyaan dalam hatiku ini.